Angin September berhembus dari arah timur, menerpa wajah dan tubuhku hingga hampir membeku dan membiru dalam keheningan malam yang menyesakkan. Tak pernah aku peduli dengan hal itu. Aku hanya sangat merindukan tempat ini lebih dari siapa pun yang mengetahuinya. Di tempat ini aku melewati hari-hari yang terjal dan berliku. Kebahagiaan hingga kepahitan karena keluarga, sahabat, atau cinta yang rumit telah kurasakan di tempat ini. Dan tragisnya terakhir kali aku berada di tempat ini, aku baru saja merasakan sesuatu yang amat pahit dan menyakitkan. Aku dalam keadaan hancur dan kecewa ketika itu. Bahkan semua itu masih tersisa dan dapat kurasakan hingga detik ini. Kalah mutlak dalam peperangan dan sebuah rasa bersalah.Sabtu, 15 Oktober 2011
Cerpen Kedua : Tittle is not available
Angin September berhembus dari arah timur, menerpa wajah dan tubuhku hingga hampir membeku dan membiru dalam keheningan malam yang menyesakkan. Tak pernah aku peduli dengan hal itu. Aku hanya sangat merindukan tempat ini lebih dari siapa pun yang mengetahuinya. Di tempat ini aku melewati hari-hari yang terjal dan berliku. Kebahagiaan hingga kepahitan karena keluarga, sahabat, atau cinta yang rumit telah kurasakan di tempat ini. Dan tragisnya terakhir kali aku berada di tempat ini, aku baru saja merasakan sesuatu yang amat pahit dan menyakitkan. Aku dalam keadaan hancur dan kecewa ketika itu. Bahkan semua itu masih tersisa dan dapat kurasakan hingga detik ini. Kalah mutlak dalam peperangan dan sebuah rasa bersalah.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar