Langit berhias gumpalan awan hitam yang menutup cerahnya wajah sang mentari
siang itu. Rintik-rintik air mulai runtuh dari singgasananya. Aroma debu yang
basah pun mulai tercium. Deras dan semakin deras air mengalir dari langit.
Perlahan ia membasahi semua yang ada di bawah langitnya.
Matematika. Pelajaran inilah yang kini sedang menggema di kelas kami. Kelas
yang berada di lantai atas. Berdampingan dengan sebuah kelas yang lain.
Saat ini adalah fase kritis untuk semua penghuni kelas terkutuk, 9h. Tapi entah
mengapa di saat motivasi begitu dibutuhkan dalam masa-masa sebelum Ujian
Nasional, kelelahan memotivasi diri sendiri justru timbul dan semakin
menyudutkan posisi kami. Saat ini jugalah kami harus mencari solusi yang cepat
dan tepat. Jika tidak, kami akan mati. Satu-satunya solusi itu adalah hiburan
untuk melawan sesosok kejenuhan.
Detik-detik sebelum bel berbunyi adalah waktu yang sangat tidak kondusif untuk
memasukkan pelajaran matematika ke dalam memori otak. Hampir seluruh siswa
telah menyerah dan memilih membenamkan wajah mereka ke dalam dekapan lengan
mereka di atas meja. Sebagian lagi lebih sibuk memandang layar ponsel untuk
sekedar memandangi jam, membalas pesan, ataupun memperbarui status jejaring
sosial mereka. Mereka lelah, aku lelah.
Bel kebebasan yang telah lama dinanti-nanti oleh para nara pidana kelas pun
berbunyi. Wajah yang tadinya lelah, lusuh, letih, kusut berubah menjadi
sumringah secara tiba-tiba. Hujan yang tadinya turun dengan derasnya tanpa
kenal kompromi pun kini memberikan kompensasi indah untuk kepulangan jiwa-jiwa
yang haus kebebasan.
Siswa-siswa berhamburan bagaikan laron-laron kecil yang bahagia setelah doa
selesai dipanjatkan. Mereka, begitu juga aku melayang menuruni tangga yang
licin, basah terkena air hujan. Dengan wajah berseri aku menatap wajah yang
berseri pula. Hari Sabtu adalah hari yang tepat untuk mencari hiburan bagi diri
kami masing-masing. Tanpa les, TPM, maupun pelajaran tambahan.
Aku dan keenam kawanku bergegas berjalan menuju tempat parkir yang berada di
kampus utara. Hari ini aku dan mereka akan bersenang-senang mencari hiburan.
Untungnya hiburan kami sangat mudah didapatkan. Berkumpul bersama sambil
tertawa dan membagi cerita menarik sanggup meringankan beban yang dengan kejam
hampir menindas kami.
Sesampainya di tempat parkir, di sana pula terlihat ratusan sepeda yang
berjajar, saling berhimpitan. Pak satpam telah berdiri di depan pintu gerbang
menanti satu demi satu sepeda itu terbebas hingga akhirnya tak ada satu pun
sepeda yang tersisa di dalamnya. Anak-anak berdesakan berusaha cepat-cepat
keluar dari gedung sekolah.
“Cepat dong, Rin!” aku menyuruh Rina agar dia bergegas keluar dari pintu
gerbang. Aku menabrakkan ban depan sepedaku ke bagian belakang sepedanya dengan
muka yang jail. Satpam yang berdiri bersandar di samping pintu gerbang
memandangku dengan sebal. Aku tak peduli.
“Nana!” dia meneriakkan namaku, kemudian menoleh. Matanya melotot memandangku.
“Jangan dorong-dorong gitu dong! Ini juga yang depan lama banget keluarnya!” dia
meneruskan berteriak dengan jengkel. Aku tertawa dengan puas karena berhasil
membuatnya kesal.
Rina adalah salah satu dari enam temanku yang akan berkunjung ke rumahku hari
ini. Dia anak berambut panjang, hitam dan lurus, yang selalu dikucirnya seperti
buntut kuda. Tingginya beberapa senti lebih dariku. Aku sering merasa seperti
kurcaci cilik ketika berdiri di sampingnya.
“Fiuh, akhirnya bebas,” Rina tersenyum senang.
“Haha iya! Eh tapi anak yang lain kok lama sih!”
Beberapa menit aku dan Rina berdiri menanti kelima temanku yang lain sambil
sesekali membalas sapaan dari manusia-manusia yang berlalu lalang di depan
kami. Kemudian dari pintu gerbang parkir aku melihat dua anak berwajah cupu.
Yang satu kurus tinggi kering kerontang, dan satunya agak gemuk. Mungkin anak
gemuk itu harus mengunyah dengan pelan ketika makan kalau ingin melangsingkan
tubuh. Kedua anak itu adalah juga dua anak yang kami tunggu. Yang kurus,
kering, bermata bulat kinclong, dan menenteng sepeda merah adalah Onah. Satunya
lagi, si gemuk, rambutnya lurus sempurna, matanya bulat seperti bola pingpong,
serta hidungnya mancung yang kini sedang berjalan membuntuti Onah, namanya
adalah Nia.
“Ish kenapa lama amat?” aku memandang mereka bergantian. Tadinya ingin
berpura-pura melabrak tapi melihat muka Onah yang spesialis melas, rasanya aku
tak tega.
“Sepedanya Nia susah diambil. Kalian gak mau nolongin sih. Jadinya lama deh,”
Onah menjawab dengan suara datar dan dilelah-lelahkan. Nia manggut-manggut setuju
dengan kata-kata yang dilontarkan Onah, teman sebangkunya itu.
“Galuh sama Laras juga lelet nih. Sama aja,” Rina kelihatan sangat sebal. Jika
sudah begini, bibirnya akan manyun dengan mudah.
“Tuh mereka,” Nia menunjuk ke belakang punggungku.
Benar saja. Dua personil Lucu Cupu yang lain muncul dari balik jeruji besi.
Mereka kelihatan berseri-seri. Galuh adalah anak yang memboncengkan anak yang
membonceng, dan anak yang membonceng bernama Laras. Galuh adalah tipe orang
yang kaya akan beban-beban berat, sedangkan Laras adalah tipe manusia yang
miskin akan beban berat.
Inilah anak-anak Lucu Cupu. Tujuh anak sederhana yang akan berpartisipasi dalam
sayembara Ujian Nasional. Terdiri dari berbagai karakter manusia yang berbeda
namun saling cocok satu sama lain. Tidak perlu usaha yang keras untuk
mencocok-cocokkan keadaan kami. Kami sudah seperti ini, apa adanya.
“Beli es krim di toko sebelah dulu yuk! Mumpung besok Minggu,” kata Galuh
dengan lelah.
“Yuk,” Onah menyeletuk, diikuti anggukan setuju dari anak-anak yang lain.
“Hurrah, hurrah es krim!” aku bersorak riang gembira. Aku sangat suka es krim.
Apalagi jika dimakan bersama dengan teman-teman. Maklum, biasanya paling mentok
hanya aku dan Onah yang sudi membeli es krim di toko Berkah Mandiri itu.
Alhasil Lucu Cupu nongkrong sejenak di sebuah toko yang sebenarnya
adalah tempat langganan photocopy sekolah dan kantor dinas. Di Berkah
Mandiri, kami berebut es krim yang kami inginkan.
“Pertimbangkan harganya,” Onah memperingatkan dengan serius. Aku mendukungnya.
Di antara kami semua, Onah dan aku adalah yang paling perhitungan dengan harga
barang. Selama ada yang lebih murah, itulah yang lolos seleksi.
“Aku mau dong yang cokelat!” Laras merengek berusaha meraih Paddle Pop rasa
cokelat kacang.
“Tapi kan mahal,” Onah berbisik misterius agar orang-orang asing yang ada di
Berkah Mandiri tidak mendengar.
“Yang vanilla aja. Bisa hemat lima ratus rupiah!”
Setelah menimbang-nimbang selama setengah jam, kami pun memutuskan untuk
mengambil es krim vanilla dan menghemat uang lima ratus rupiah.
“Mana uang kalian, biar aku yang bayar,” satu per satu anak Lucu Cupu
menyerahkan tiga lembar uang seribuan kepada Galuh. Galuh berjalan menuju
kasir, menyerahkan dua puluh satu lembar uang seribuan, kemudian berjalan dan
berdiri lagi di antara kami.
“Duduk di sana yuk,” aku mengajak mereka semua untuk duduk di bangku reyot yang
sudah usang yang diletakkan di depan toko itu.
***
Langit masih berwarna kelam. Jam telah menunjukkan pukul 14.00 ketika aku
memandang arloji di lengan kiriku. Aku dan keenam temanku mengayuh sepeda,
kembali melewati jalan aspal yang becek pasca hujan deras beberapa waktu tadi.
Sepeda kami membentuk empat banjar yang melenggang sangat kompak. Bergerak
bagaikan naga yang lincah meliuk-liuk. Aku berada di barisan sepeda paling
belakang sehingga aku dapat dengan bebas mengekspresikan raut muka kesedihanku
tanpa terlihat oleh mereka.
Sesampainya di Simpang Lima, tiga sepeda di depanku berbelok ke arah kiri.
Kejailan yang sudah lama mengalir di dalam darahku pun tiba-tiba muncul,
melahirkan ide yang jail pula. Aku tak mengikuti mereka berbelok. Dengan
kayuhan yang pasti, aku memilih jalan yang lurus, berharap aku dapat
mengejutkan mereka ketika bertemu di lain jalan nanti.
Malang tak dapat ditolak, naas tak dapat diusir. Tiba-tiba rintik-rintik hujan
kembali berjatuhan dari atap langit. Pada puncaknya air yang tadinya
membasahi sehelai rambutku pun tak mampu, berubah secara kuantum menjadi sangat
deras. Aku berusaha tidak mempedulikan sang hujan. Aku mencoba menikmati setiap
tetesan air yang jatuh ke tubuhku sambil memikirkan semua hal buruk yang telah
kualami. Nilai tryout yang hancur, cacian dari orangtua, raut wajah
kecewa orangtuaku. Mereka semua membebaniku.
Tiba di tempat di mana seharusnya aku bertemu lagi dengan sepeda-sepeda yang
dikendarai teman-temanku. Aku berhenti di depan rumah kosong di pinggir jalan
untuk berteduh sambil menunggu mereka.
Hujan mulai mereda. Akan tetapi, satu, dua, tiga, empat, lima menit mereka tak
kunjung muncul dari ujung jalan yang lain. Aku mulai curiga. Apakah mereka
malah berhenti di warung soto dan tidak menyadari bahwa aku telah menghilang
dari rombongan? Oh tidak!
Aku hanya bisa memanfaatkan waktuku yang garing dengan memandang
orang-orang yang berlalu lalang di depan tempatku berteduh. Perhatianku pun
tercuri ketika sebuah sepeda motor melintas. Pengendaranya mengenakan seragam
putih abu-abu. Seragam yang sebentar lagi akan kukenakan bila aku berhasil
mengalahkan pertarungan hidup dan mati selama empat hari dengan sukses. Aku
mengenal orang itu. Aku amat mengetahuinya. Dan seharusnya dia juga demikian.
Bagiku dia
adalah orang yang sukses dalam segala pilihannya. Orang yang selalu berhasil,
tak pernah sekalipun mengecap pahitnya kegagalan. Setidaknya begitulah indera
penglihatanku menangkap gambaran tentang dirinya. Jalan yang ia tempuh terlalu
mudah. Terlalu halus. Lurus. Sangat berbeda dengan jalan-jalan yang kini tengah
aku lalui. Terjal, berliku, bahkan kadang aku tersesat hingga harus kembali dan
mencari jalan yang benar untuk dilalui.
Tiga langkah
sudah aku mengikuti dirinya. Entah pada usahaku yang ke empat ini langkahku
akan pupus karena gagal berjuang ataukah berkembang dengan indahnya. Segalanya
masih berupa kalimat tanya yang belum tentu jawabannya.
Namun
kusadari bahwa aku dan dia kini sama-sama sedang berjuang. Kami akan berjuang
bersama saat ini. Berjuang untuk memetik buah manis bernama keberhasilan.
Bersama, kami akan merasakan indahnya pelangi setelah hujan.
Melihat
orang yang pantang menyerah seperti dirinya cukup membantu meringankan beban
beratku dan aku juga berhasil mengisi penuh semangatku. Aku pun pulang dengan
motivasi terindah yang pernah kudapatkan secara amatir dan cuma-cuma. Kini pun
aku telah dapat melihat pelangi di langit. Kedatanganku ke rumah juga disambut dengan
tidak biasa dengan anak-anak Lucu Cupu yang telah lebih dulu tiba di rumahku.
Mereka semua tertawa, aku pun ikut tertawa.