Sabtu, 23 Februari 2013

Esok Harimu yang Berganti



Esok harimu hampir berganti
Dua lembar surat yang amat panjang dan penuh tulisan telah ku poskan kepada Tuhan
Tuhan kita, Tuhanmu dan Tuhanku
Ku kirimkan kepadaNya surat itu agar aku bisa mengatakan kepadamu

Pada halaman pertama
Aku bahagia melihatmu bahagia
Aku akan selalu ada tidak hanya di saat kamu bahagia
Akan selalu ada dua tanganku yang lemah
Yang akan menjadi kuat dan mampu menggenggam tanganmu

Bukan ketika kamu tidak menginginkan aku
Hanya ketika kamu butuh aku
Bawalah aku ke hadapanmu
Aku akan tersedia untuk kamu
Karena aku bahagia melihat kamu bahagia

Pada halaman kedua
Kutuliskan harapan dari manusia rapuh untuk kamu kepada Tuhan kita
Jangan beri ia luka yang ia tak mampu menahan sakitnya
Sayangi ia sebagaimana seharusnya Engkau menyayanginya
Hindarkanlah ia dari keburukan dunia dan setelahnya
Karena aku bahagia melihat ia bahagia, Tuhan

Dan apabila esok harimu telah berganti
Aku ingin menjadi bagian dari hari-harimu
Meskipun kamu tidak pernah tahu isi surat yang ku poskan kepada Tuhan kita

Kamis, 14 Februari 2013

Pelangi Setelah Hujan




                Langit berhias gumpalan awan hitam yang menutup cerahnya wajah sang mentari siang itu. Rintik-rintik air mulai runtuh dari singgasananya. Aroma debu yang basah pun mulai tercium. Deras dan semakin deras air mengalir dari langit.  Perlahan ia membasahi semua yang ada di bawah langitnya.
                 Matematika. Pelajaran inilah yang kini sedang menggema di kelas kami. Kelas yang berada di lantai atas. Berdampingan dengan sebuah kelas yang lain.
                 Saat ini adalah fase kritis untuk semua penghuni kelas terkutuk, 9h. Tapi entah mengapa di saat motivasi begitu dibutuhkan dalam masa-masa sebelum Ujian Nasional, kelelahan memotivasi diri sendiri justru timbul dan semakin menyudutkan posisi kami. Saat ini jugalah kami harus mencari solusi yang cepat dan tepat. Jika tidak, kami akan mati. Satu-satunya solusi itu adalah hiburan untuk melawan sesosok kejenuhan.
                 Detik-detik sebelum bel berbunyi adalah waktu yang sangat tidak kondusif untuk memasukkan pelajaran matematika ke dalam memori otak. Hampir seluruh siswa telah menyerah dan memilih membenamkan wajah mereka ke dalam dekapan lengan mereka di atas meja. Sebagian lagi lebih sibuk memandang layar ponsel untuk sekedar memandangi jam, membalas pesan, ataupun memperbarui status jejaring sosial mereka. Mereka lelah, aku lelah.
                 Bel kebebasan yang telah lama dinanti-nanti oleh para nara pidana kelas pun berbunyi. Wajah yang tadinya lelah, lusuh, letih, kusut berubah menjadi sumringah secara tiba-tiba. Hujan yang tadinya turun dengan derasnya tanpa kenal kompromi pun kini memberikan kompensasi indah untuk kepulangan jiwa-jiwa yang haus kebebasan.
                 Siswa-siswa berhamburan bagaikan laron-laron kecil yang bahagia setelah doa selesai dipanjatkan. Mereka, begitu juga aku melayang menuruni tangga yang licin, basah terkena air hujan. Dengan wajah berseri aku menatap wajah yang berseri pula. Hari Sabtu adalah hari yang tepat untuk mencari hiburan bagi diri kami masing-masing. Tanpa les, TPM, maupun pelajaran tambahan.
            Aku dan keenam kawanku bergegas berjalan menuju tempat parkir yang berada di kampus utara. Hari ini aku dan mereka akan bersenang-senang mencari hiburan. Untungnya hiburan kami sangat mudah didapatkan. Berkumpul bersama sambil tertawa dan membagi cerita menarik sanggup meringankan beban yang dengan kejam hampir menindas kami.
                 Sesampainya di tempat parkir, di sana pula terlihat ratusan sepeda yang berjajar, saling berhimpitan. Pak satpam telah berdiri di depan pintu gerbang menanti satu demi satu sepeda itu terbebas hingga akhirnya tak ada satu pun sepeda yang tersisa di dalamnya. Anak-anak berdesakan berusaha cepat-cepat keluar dari gedung sekolah.
                 “Cepat dong, Rin!” aku menyuruh Rina agar dia bergegas keluar dari pintu gerbang. Aku menabrakkan ban depan sepedaku ke bagian belakang sepedanya dengan muka yang jail. Satpam yang berdiri bersandar di samping pintu gerbang memandangku dengan sebal. Aku tak peduli.
                 “Nana!” dia meneriakkan namaku, kemudian menoleh. Matanya melotot memandangku. “Jangan dorong-dorong gitu dong! Ini juga yang depan lama banget keluarnya!” dia meneruskan berteriak dengan jengkel. Aku tertawa dengan puas karena berhasil membuatnya kesal.
                 Rina adalah salah satu dari enam temanku yang akan berkunjung ke rumahku hari ini. Dia anak berambut panjang, hitam dan lurus, yang selalu dikucirnya seperti buntut kuda. Tingginya beberapa senti lebih dariku. Aku sering merasa seperti kurcaci cilik ketika berdiri di sampingnya. 
                 “Fiuh, akhirnya bebas,” Rina tersenyum senang.
                 “Haha iya! Eh tapi anak yang lain kok lama sih!”
                 Beberapa menit aku dan Rina berdiri menanti kelima temanku yang lain sambil sesekali membalas sapaan dari manusia-manusia yang berlalu lalang di depan kami. Kemudian dari pintu gerbang parkir aku melihat dua anak berwajah cupu. Yang satu kurus tinggi kering kerontang, dan satunya agak gemuk. Mungkin anak gemuk itu harus mengunyah dengan pelan ketika makan kalau ingin melangsingkan tubuh. Kedua anak itu adalah juga dua anak yang kami tunggu. Yang kurus, kering, bermata bulat kinclong, dan menenteng sepeda merah adalah Onah. Satunya lagi, si gemuk, rambutnya lurus sempurna, matanya bulat seperti bola pingpong, serta hidungnya mancung yang kini sedang berjalan membuntuti Onah, namanya adalah Nia.
                 “Ish kenapa lama amat?” aku memandang mereka bergantian. Tadinya ingin berpura-pura melabrak tapi melihat muka Onah yang spesialis melas, rasanya aku tak tega.
                 “Sepedanya Nia susah diambil. Kalian gak mau nolongin sih. Jadinya lama deh,” Onah menjawab dengan suara datar dan dilelah-lelahkan. Nia manggut-manggut setuju dengan kata-kata yang dilontarkan Onah, teman sebangkunya itu.
                 “Galuh sama Laras juga lelet nih. Sama aja,” Rina kelihatan sangat sebal. Jika sudah begini, bibirnya akan manyun dengan mudah.
               “Tuh mereka,” Nia menunjuk ke belakang punggungku.
            Benar saja. Dua personil Lucu Cupu yang lain muncul dari balik jeruji besi. Mereka kelihatan berseri-seri. Galuh adalah anak yang memboncengkan anak yang membonceng, dan anak yang membonceng bernama Laras. Galuh adalah tipe orang yang kaya akan beban-beban berat, sedangkan Laras adalah tipe manusia yang miskin akan beban berat.
            Inilah anak-anak Lucu Cupu. Tujuh anak sederhana yang akan berpartisipasi dalam sayembara Ujian Nasional. Terdiri dari berbagai karakter manusia yang berbeda namun saling cocok satu sama lain. Tidak perlu usaha yang keras untuk mencocok-cocokkan keadaan kami. Kami sudah seperti ini, apa adanya.
            “Beli es krim di toko sebelah dulu yuk! Mumpung besok Minggu,” kata Galuh dengan lelah.
            “Yuk,” Onah menyeletuk, diikuti anggukan setuju dari anak-anak yang lain.
            “Hurrah, hurrah es krim!” aku bersorak riang gembira. Aku sangat suka es krim. Apalagi jika dimakan bersama dengan teman-teman. Maklum, biasanya paling mentok hanya aku dan Onah yang sudi membeli es krim di toko Berkah Mandiri itu.
            Alhasil Lucu Cupu nongkrong sejenak di sebuah toko yang sebenarnya adalah tempat langganan photocopy sekolah dan kantor dinas. Di Berkah Mandiri, kami berebut es krim yang kami inginkan.
            “Pertimbangkan harganya,” Onah memperingatkan dengan serius. Aku mendukungnya. Di antara kami semua, Onah dan aku adalah yang paling perhitungan dengan harga barang. Selama ada yang lebih murah, itulah yang lolos seleksi.
            “Aku mau dong yang cokelat!” Laras merengek berusaha meraih Paddle Pop rasa cokelat kacang.
            “Tapi kan mahal,” Onah berbisik misterius agar orang-orang asing yang ada di Berkah Mandiri tidak mendengar.
            “Yang vanilla aja. Bisa hemat lima ratus rupiah!”
            Setelah menimbang-nimbang selama setengah jam, kami pun memutuskan untuk mengambil es krim vanilla dan menghemat uang lima ratus rupiah.
            “Mana uang kalian, biar aku yang bayar,” satu per satu anak Lucu Cupu menyerahkan tiga lembar uang seribuan kepada Galuh. Galuh berjalan menuju kasir, menyerahkan dua puluh satu lembar uang seribuan, kemudian berjalan dan berdiri lagi di antara kami.
            “Duduk di sana yuk,” aku mengajak mereka semua untuk duduk di bangku reyot yang sudah usang yang diletakkan di depan toko itu.
***
            Langit masih berwarna kelam. Jam telah menunjukkan pukul 14.00 ketika aku memandang arloji di lengan kiriku. Aku dan keenam temanku mengayuh sepeda, kembali melewati jalan aspal yang becek pasca hujan deras beberapa waktu tadi.
            Sepeda kami membentuk empat banjar yang melenggang sangat kompak. Bergerak bagaikan naga yang lincah meliuk-liuk. Aku berada di barisan sepeda paling belakang sehingga aku dapat dengan bebas mengekspresikan raut muka kesedihanku tanpa terlihat oleh mereka.
            Sesampainya di Simpang Lima, tiga sepeda di depanku berbelok ke arah kiri. Kejailan yang sudah lama mengalir di dalam darahku pun tiba-tiba muncul, melahirkan ide yang jail pula. Aku tak mengikuti mereka berbelok. Dengan kayuhan yang pasti, aku memilih jalan yang lurus, berharap aku dapat mengejutkan mereka ketika bertemu di lain jalan nanti.
            Malang tak dapat ditolak, naas tak dapat diusir. Tiba-tiba rintik-rintik hujan kembali berjatuhan dari atap langit.  Pada puncaknya air yang tadinya membasahi sehelai rambutku pun tak mampu, berubah secara kuantum menjadi sangat deras. Aku berusaha tidak mempedulikan sang hujan. Aku mencoba menikmati setiap tetesan air yang jatuh ke tubuhku sambil memikirkan semua hal buruk yang telah kualami. Nilai tryout yang hancur, cacian dari orangtua, raut wajah kecewa orangtuaku. Mereka semua membebaniku.
            Tiba di tempat di mana seharusnya aku bertemu lagi dengan sepeda-sepeda yang dikendarai teman-temanku. Aku berhenti di depan rumah kosong di pinggir jalan untuk berteduh sambil menunggu mereka.
            Hujan mulai mereda. Akan tetapi, satu, dua, tiga, empat, lima menit mereka tak kunjung muncul dari ujung jalan yang lain. Aku mulai curiga. Apakah mereka malah berhenti di warung soto dan tidak menyadari bahwa aku telah menghilang dari rombongan? Oh tidak!
            Aku hanya bisa memanfaatkan waktuku yang garing dengan memandang orang-orang yang berlalu lalang di depan tempatku berteduh. Perhatianku pun tercuri ketika sebuah sepeda motor melintas. Pengendaranya mengenakan seragam putih abu-abu. Seragam yang sebentar lagi akan kukenakan bila aku berhasil mengalahkan pertarungan hidup dan mati selama empat hari dengan sukses. Aku mengenal orang itu. Aku amat mengetahuinya. Dan seharusnya dia juga demikian.
Bagiku dia adalah orang yang sukses dalam segala pilihannya. Orang yang selalu berhasil, tak pernah sekalipun mengecap pahitnya kegagalan. Setidaknya begitulah indera penglihatanku menangkap gambaran tentang dirinya. Jalan yang ia tempuh terlalu mudah. Terlalu halus. Lurus. Sangat berbeda dengan jalan-jalan yang kini tengah aku lalui. Terjal, berliku, bahkan kadang aku tersesat hingga harus kembali dan mencari jalan yang benar untuk dilalui.
Tiga langkah sudah aku mengikuti dirinya. Entah pada usahaku yang ke empat ini langkahku akan pupus karena gagal berjuang ataukah berkembang dengan indahnya. Segalanya masih berupa kalimat tanya yang belum tentu jawabannya. 
Namun kusadari bahwa aku dan dia kini sama-sama sedang berjuang. Kami akan berjuang bersama saat ini. Berjuang untuk memetik buah manis bernama keberhasilan. Bersama, kami akan merasakan indahnya pelangi setelah hujan.
Melihat orang yang pantang menyerah seperti dirinya cukup membantu meringankan beban beratku dan aku juga berhasil mengisi penuh semangatku. Aku pun pulang dengan motivasi terindah yang pernah kudapatkan secara amatir dan cuma-cuma. Kini pun aku telah dapat melihat pelangi di langit. Kedatanganku ke rumah juga disambut dengan tidak biasa dengan anak-anak Lucu Cupu yang telah lebih dulu tiba di rumahku. Mereka semua tertawa, aku pun ikut tertawa.

Dia



Apa yang ingin kuadukan kepada pepohonan
Tentang dia yang membuatku diam
Dia yang membuatku tersenyum
Dia yang membuatku tertawa
Dia yang membuatku terluka
Ataukah dia yang belum pernah membuatku meneteskan air mata

Dunia Itu



Dunia itu terbuka lagi.

Sudah lama sekali, aku tidak melihat apapun yang terdapat di dalamnya.
Bulan yang senang membual.
Bintang yang berkelap-kelip mencurigakan.
 Awan yang selalu tertiup angin.
Pelangi yang selalu melengkung.

Ketika dunia itu terbuka lagi, aku tidak bisa menemukan apapun.
Kecuali, sebuah album usang berisi beberapa lembar foto kami dulu.
Di dunia itu yang terbuka lagi.