Rabu, 23 Mei 2012

Pesona Si Bulan

Terbang rasanya bersama dedaunan
Di awang beralas tanah dan rerumputan
Meski beratap mendung sore itu
Tetap tampak sinar lembut bulan sabit 
Yang menanti tibanya kegelapan
Yang tak kuasa diabaikan siapapun
Sore itu ...
***

Perjalanan

Perjuangan telah sampai di pertengahan
tiada penghentian,
dia terus berjalan.


Tanpa belas kasih
dan pengampunan
Hidup dan mati hanyalah pilihan.

Senin, 26 Maret 2012

Dua


Tertawa lepas dia tanpa manipulasi
Kebodohan dari mata orang-orang yang melihatnya
Sangsi
Demikian pula ia terlihat
Berlian yang tertutup lumpur di atasnya
Mereka hanya melihat lumpur
Dan aku melihat pantulannya
Kebohongan yang ditenggelamkan oleh tawa
Beruntung aku mampu melihatnya

Perkenalan Pertama


Suara cengeng khas anak kecil yang sok kenal terngiang menyuarakan nama yang sama dengan namaku. Dia merengek meminta sesuatu yang tak kumiliki. Aku mengusirnya mentah-mentah.
Anak kecil yang terdengar dari segala sudut. Aku tinggal di sebuah gua yang kedap suara. Sayang sekali bahkan aku hanya menganggapnya anak kecil yang tak berarti apa-apa.
***

Jumat, 10 Februari 2012

Pengharap dan Harapan


Barisan kijang yang berjajar kini berjalan berarak-arakan. Kucingpun berjalan pula di antaranya. Pelan ia melangkahkan kakinya. Satu kiri, satu kanan, satu kiri, satu kanan. Dia sedang menanti satu kijang yang telah lama membuatnya terkesima. Kijang di belakangnya. Berharap dia mau berjalan lebih darinya.
            Peri langit turun ke bumi menabur serbuk kebahagiaan. Harapan si kucing pun didengarkan.  Kijang seolah mengerti apa yang si pengharap harapkan. Kini kijang meluncur bagaikan trewelu.
            Keluarlah sayap si kucing. Dia ingin terbang bersama kijang. Kijang berjalan di sampingnya. Meski kucing kalah cepat. Kucing tetap ingin terbang walau hanya selangkah saja dia berjalan dengan si kijang di sampingnya.
***

Minggu, 25 Desember 2011

Antara Aku dan Loi

“Loi!” Aku berlari dan berhasil meraih tangannya.
Dia menoleh sambil memandangku seakan tak percaya akulah yang memegang tangannya sekarang. Aku tahu dengan pasti apa yang akan dilakukannya sekarang. Yeah, she is crying now. Is it my mistake anymore? Maybe.
‘Pergilah, Asa! Please.” Dia berkata, menangis, dan menatapku sekaligus. Aku bisa melihat dengan jelas lagi wajahnya sekarang. Tapi entahlah apa yang harus aku rasakan saat ini. Aku ingin melihat wajahnya. Ataukah aku tak ingin melihatnya untuk selamanya.
Pada keadaan ini aku pergi. Aku akan melepaskan tangannya. Kemudian aku akan berpaling darinya dan melangkahkan kedua kakiku. Berjalan. Terus berjalan meninggalkannya. Saat itulah dia juga melakukannya. Sama persis. Hingga jarak memisahkan kami. Semakin jauh.
***

Sabtu, 22 Oktober 2011

Announcement

There will be a short meeting to all Biology Club member in the school library after school.
Every member need to be present in this important meeting. Anyone unable attend the meeting should find the mentor for ask permission.